DI KEPALA SAYA ADA SAJAK HARI INI karya MIFTAHUDDIN MUNIDI
Ada begitu banyak sajak yang tidak punya nyali; jika dia mencintai malah menyembunyikan cinta dari kekasihnya, jika dia rindu malah sibuk pura-pura ini dan itu, jika dia kecewa malah kecewanya itu dikirim ke bulan ketika malam hujan-hujanan, jika dia cemburu malah cemburu itu menjadi asap setelah dibakarnya dalam sebatang rokok.
Sajak memang begitu banyak wajahnya, yang bergincu ada, yang berkumis ada, malah yang bergincu sekaligus berkumis juga ada lebih banyak daripada yang hanya bergincu dan yang hanya berkumis.
Mampukah sajak tetap utuh sebagai sajak jika samar-samar dibisikkan pada hari yang begini ini; padahal mengatakan sesuatu saja dipaksa lebih nyaring dari raungan kenalpot yang lalu lalang tiap waktu di jalanan sana,
Mampukah terdengar suaranya jika gelak tawa penonton komedi tivi menggema di rumah-rumah.
CATATAN; di sore Minggu tanggal 25 Maret 2012 part 2
Perkenalkan namanya Riri, gadis biasa dari desa yang akan aku nikahi 22 April nanti. Sebagai lelaki yang begitu terobsesi dengan dunia penulisan, tentu saja aku tak mungkin membiarkan kesempatan ini lewat begitu saja tanpa meninggalkan jejak-jejak dalam catatanku.
Perkenalkan namanya Riri, gadis yang tak pernah kehadirannya kutuliskan dalam sajak dan tak pula menjadikannya kegelisahan dalam rinduku selama ini. Mungkin agar lebih mudah ku pakai saja istilah jodoh terhadap pertemuan kami pada malam itu sehabis shalat Isya.
Perkenalkan namanya Riri, gadis yang sedikit pendiam. Kecuali beberapa kali lirikan matanya yang kepergok tak sengaja, selebihnya dia membiarkan aku panas-dingin bersama senyumannya. Persis seperti salah satu adegan film ayat-ayat cinta, dimana kegugupan tokoh fahri begitu kentara memandangi wajah calon istrinya untuk pertama kalinya.
Perkenalkan namanya Riri, gadis yang kupastikan mencintainya bukan sekedar berdasarkan pada pandangan pertama. Hati ini telah lebih dulu sengaja ku jatuhkan untuknya. Pendek kata, aku mencintai dirinya karena aku ingin mencintai gadis sepertinya.
Bila kalian masih ingat, aku pernah mengatakan bahwa bagiku jatuh cinta itu gampang dan akan lebih gampang jika cinta itu memang sengaja dijatuhkan. Nah, seandainya kemudian menimbulkan tanya apa yang sulit, mungkin enteng aku akan jawab “membuat yang gampang itu menjadi tidak gampangan,” terdengar seperti omong kosong puitisme bukan? tapi buatku tidak! sekali lagi Tidak!! ini adalah sikap!
CATATAN; di sore Minggu tanggal 25 Maret 2012 part 1
Mungkin waktu yang lalu,
mungkin ruang yang telah,
mungkin bayang yang hilang,
mungkin hanya yang entah.
Mungkin, ya mungkin sore itu Hudan adalah tuan rumah yang dia masih secantik dulu ketika kukatakan permisi mengantarkan dian yang juga tentu saja secantik dulu pulang; rumah (acilnya) yang lain. hahaha…. kami tertawa.
Mungkin, ya mungkin sore itu aku tak sempat banyak bercerita pada bukubuku atau kopi palu yang hitam sedikit pekat, ahai.. hampir lupa, tentu saja menghabiskannya pasti aku akan sempatkan.
Mungkin, ya mungkin sore itu aku harus tiba sebelum maghrib, meninggalkan pembicaraan yang belum tuntas tentang sajak dan tentang tuan guru tua dan gagalnya seorang novelis, tentang yang satu itu tentu saja.
Mungkin, ya mungkin sore itu, walau cuma sejenak tapi aku benar-benar merasa cuaca di teras serupa dulu; untuk berteman bukankah kita tak harus saling sepakat? ya, tentu saja kitalah yang selalu sepakat untuk masalah ini.
Mungkin, ya mungkin sore itu dan namanya Ri; jujur saja awalnya aku berkeringat walau tak menjadi sedingin es batu, segelas teh hangat tidak meredam gemetar tanganku, ini pertamakalinya bung, wajar tak wajar aku gugup juga dibuatnya.
Catatan Orang yang Ingin Menulis Cerpen
Pukul 4 subuh. Sudah ada banyak orang yang bangun dan beraktifitas memulai hari baru. Sedangkan aku belum bisa memejamkan mata barang sedikitpun. Ada begitu banyak kata yang berlarian dalam otakku. meloncat-lontat kesana-kemari seperti anak kecil yang sedang main tak-umpat. Muncul yang satu, sembunyi yang lain.
Aku hampir marah karena beranggapan benar-benar dipermainkan mereka. berjam-jam aku mengerahkan kemampuanku untuk menjadikan mereka anak yang baik. mula-mula mereka aku suruh berbaris rapi di muka layar Notebookku. mereka menurut. mereka tersenyum menampakkan gigi-gigi kecil mereka. aku balas dengan tawa kemenangan.
sajak Jika AKu Mati Karya Miftahuddin Munidi
Jika aku mati. Aku ingin menuliskan wasiat pada puisi-puisi
yang ku tinggalkan.
(I)
Untuk Puisi Cintaku Si Sulung yang pandai menggoda.
Padamu aku serahkan semua taman, rawatlah keindahannya, rawatlah seperti biasa aku merawatnya, kamu pasti sudah mahir meniru gayaku, kapan aku suka bercinta, bagaimana cara menikmati teh hangat buatannya, kemana aku mengajaknya menghabiskan petang, dimana aku menunggunya diam-diam. Rawatlah dia sampai tua, jangan biarkan dia menangisi kematianku. Katakan aku menunggunya di surga.
Puisi cintaku,
Tentang rindumu selama ini, aku tak melarangnya, aku sudah lama tahu bagaimana merahnya kamu simpan diamdiam, aku pun pernah diamdiam menyimpannya.
Puisi cintaku,
Jaga senyumanmu untukku.
(II)
Untuk Puisi lirihku Si Manis Yang Pendiam
Padamamu aku serahkan kolam ikan belakang rumah, sebab aku tahu bagaimana sakralnya kolam itu untukmu, hingga semua waktu luang yang kamu miliki, pasti kamu habiskan disana sendirian.
Manisku yang pendiam,
Aku pernah tak sengaja meminum air kolam itu, rasanya menyakitkan, bahkan lukanya sampai kehatiku.
Manisku yang pendiam,
Aku sungguh curiga, tangisanmukah penyebabnya, manisku, jujur saja, benarkah air itu berasal dari matamu? Benarkah kolam itu telah kamu jadikan wadah sepimu?
Manisku, bagaimana mungkin kamu memelihara ikan-ikan itu dalam kesedihanmu, manisku, diammu itu masih tak berubah sejak dulu. Manisku.
Manisku yang pendiam,
Aku selalu mendoakan kebahagianmu, bahkan setelah kematianku.
(III)
Untuk Puisi Antalogiku Si Pemberani Yang Candu Kopi.
Untukmu aku hadiahkan semua tabunganku, tak usah merasa sungkan, aku sudah memikirkannya masakmasak, aku pun sudah memindahkannya ke rekeningmu. Sudahlah, jangan sungkan, aku paling tahu bagaimana perjuanganmu untuk bisa berada ditempat itu, susahnya mencari dana untuk biaya percetakan, bagaimana jatuhbangun memasarkannya, aku paling tahu dimana saja keringatmu pernah jatuh.
Puisi Antalogiku,
Aku yakin suatu saat nanti, kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, jagalah keberanianmu itu, jangan ajarkan dia kenekatan. Apapun alasannya.
(IV)
Untuk Puisi Pendekku Si Imut yang Selalu Usil.
Padamu aku hadiahkan NoteBook dan Handphoneku. Pakailah sesukamu, tapi ingat satu hal. Jangan sampai kelewatan.
(V)
Untuk Puisi Gelapku Si Kacamata Yang Susah Diatur.
Bisakah sekali saja tidak menatapku dengan cara seperti itu? Berhentilah main mata seperti itu, permainan matamu itu aku yang menciptakannya. Semua sudut pandangmu itu berasal dari sebilah bulumata yang tumbuh di sudut mataku.
Sudahlah, seribu kacamatapun matamu tetap saja bagian dari mataku.
Oh, hampir lupa, untukmu aku hadiahkan sepedamotorku, tidak usah berterimakasih seperti itu, bukankah aku yang membuatmu ketagihan cucimata di pantai?
Puisi Gelapku,
Pesan terakhirku, jangan pernah lupa isi bensin bila ingin pergi, aku tak bisa lagi membantumu mendorong sampai POM terdekat.
Puisi gelaplu,
Yakin saja, aku mencintaimu seperti aku mencintai saudara-saudaramu.
Tanpa ada paksaan dari pihak manapun,
MIFTAHUDDIN MUNIDI


